Prototipe Sistem Informasi Manajemen Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah pada Dinas Kesehatan Provinsi DIY

October 17, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Intisari

Sugiharto, Berty Murtiningsih, Anis Fuad

Latar belakang: Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan pertanggungjawaban publik instansi pemerintah, dibutuhkan ketepatan penyusunan pelaporan dan peningkatan akses informasi lebih cepat, tepat dan akuntabel. Sejalan dengan penerapan anggaran berbasis kinerja dan otonomi daerah, sistem pencatatan dan pelaporan perlu terus disempurnakan sehingga prinsip-prinsip pencatatan dan pelaporan yaitu cepat, tepat dan akurat dapat diterapkan dengan baik. Penyempurnaan sistem tidak hanya menyangkut sistem pelaksanaannya saja, melainkan juga menyangkut perangkat lunaknya (software), sehingga Laporan Akuntabilitas dan Kinerja Instansi Pemerintah dapat disusun dengan baik.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem informasi manajemen Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dengan model prototipe, dan mengevaluasi desain perangkat lunak tersebut pada Dinas Kesehatan Provinsi DIY.

Metode: Metode penelitian adalah penelitian kualitatif melalui pendekatan action research untuk mengeksplorasi tahap per tahap dari pengembangan sistem informasi manajemen LAKIP di Dinas Kesehatan Provinsi DIY. Subyek penelitian meliputi 26 orang yang terdiri dari Kepala Bidang Bina Program, Kasie. Monev, Tim Lakip dan staf Seksi Monev.

Hasil: Penelitian ini dimulai dengan identifikasi kebutuhan pengguna dan para stakeholder pada Dinas Kesehatan Provinsi DIY. Pengguna menginginkan perangkat lunak yang menghasilkan output format penyusunan LAKIP. Perangkat lunak ini akan mempercepat proses penyusunan LAKIP sebesar 25 % dari waktu penyusunan sebelumnya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengguna merasa puas dengan adanya penerapan perangkat lunak ini karena meningkatkan efisiensi waktu penyusunan LAKIP.

Kesimpulan: Perangkat lunak ini dirancang dengan memperhatikan kebutuhan pengguna, baik dari segi isi, tampilan, operasional dan pengembangannya. Proses penyusunan prototype dimulai dari identifikasi kebutuhan, pembuatan desain, penerapan, evaluasi dan pembelajaran. Permasalahan yang dijumpai diantaranya lama waktu proses pengumpulan data dari program, penentuan indikator kinerja, kurangnya komitmen atasan langsung dan kerusakan pada sarana pendukung seperti komputer. Dari hasil evaluasi, perangkat lunak ini bisa memberi manfaat pada proses penyusunan LAKIP dinas.
Kata kunci: prototipe, sistem informasi manajemen, LAKIP, Dinas Kesehatan Provinsi DIY.

Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Badan Penyelenggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPKM) “Jasma Angsana” Kota Singkawang Tahun 2006

May 28, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Djoko Suratmiarto, Ali Gufron Mukti, Anis Fuad

INTISARI

Latar belakang: Sistem Informasi Manajemen (SIM) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) merupakan salah satu komponen manajemen untuk membantu pengambilan keputusan secara cepat, tepat dan cermat dalam perencanaan, pemecahan masalah dan peningkatan kinerja JPKM. Pelaksanaan SIM pada Badan Pelaksana (Bapel) JPKM “Jasma Angsana” Kota Singkawang belum pernah dievaluasi sehingga belum diketahui kondisi dan peranannya secara komperhensif untuk mendukung manajemen Bapel.
Tujuan: Untuk mengetahui dan menganalisa penyelenggaraan SIM Bapel JPKM “Jasma Angsana” yang meliputi komponen input, proses dan output.
Metode: Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif. Informasi didapat melalui observasi, telaah dokumen dan wawancara mendalam dengan pengelola Bapel, Badan pembina (Bapim) dan kepala puskesmas.
Hasil: Pada komponen input ditemukan bahwa hanya di tingkat manajerial yang mampu mengoperasikan komputer, tidak ada alokasi dana, sarana perangkat lunak dan keras tidak stabil, dan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah tidak konsisten. Pada komponen proses, pengumpulan, pengolahan dan penyajian data masih belum sepenuhnya terotomatisasi, yaitu gabungan antara sistem manual dan komputer dengan database flat. Penggunaan database hanya untuk pengelolaan keuangan. Penyajian data hanya terbatas dalam bentuk tabel maupun format dan tidak diikuti dengan analisa. Output SIM berupa informasi mengenai keanggotaan, pemeliharaan kesehatan, keuangan dan administrasi/umum, akan tetapi hasilnya belum optimal.
Kesimpulan: SIM Bapel JPKM sudah berjalan namun masih terdapat keterbatasan dalam hal sumber daya manusia (SDM), SIM masih dilakukan secara manual daripada berbasis komputer, prosedur yang tidak didukung oleh teknologi, serta output kurang optimal. JKPM diharapkan untuk mengalokasikan dana untuk mengembangkan SIM serta meningkatkan SDM manajerial supaya memiliki kapasitas untuk mengelola dan mengembangkan sistem informasi yang ada.

Kata Kunci: Badan Pelaksana (Bapel), Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM), Sistem Informasi Manajemen