GIS on Weekend: Thematic Mapping

August 20, 2008 · Filed Under BERITA · Comment 

Dari hari ke hari minat para praktisi kesehatan masyarakat terhadap SIG semakin besar. Hal ini ditengarai dengan semakin banyaknya peserta yang ingin mengikuti pelatihan SIG yang diselenggarakan oleh SIMKES. Pada pertemuan ketiga yang mengusung tema “Thematic Mapping”, peserta diajak untuk mempelajari tentang cara membuat peta tematik. Pembuatan peta tematik ini dapat dilakukan dengan mengkonversi data SHP (Shapefiles) yang kita miliki ke bentuk kml (Google Earth), sehingga bisa ditampilkan sebuah peta lokasi yang terlihat jelas melalui aplikasi Google Earth.

Shapefiles atau biasa disingkat SHP merupakan format vektor (format proprietary open specification) yang dikeluarkan oleh perusahaan ESRI, yaitu perusahaan aplikasi yang telah lama bergelut di bidang SIG (ArcInfo, ArcView, ArcIMS, dan ArcGIS). Format ini memiliki tiga bentuk ekstensi, yaitu:

  1. Main file: *.shp
  2. Index file: *.shx
  3. DBase file: *.dbf

Konversi data dari format SHP menjadi data kml dapat dilakukan dengan beberapa cara. Beberapa paket software telah menyediakan aplikasi konversi ini, antara lain Arc GIS 9.2, Arc view GIS 3x (extension), DNR Garmin 5.3, Mapwindow 45CF dengan plug in Shape2earth 1.45.01, Shp2kml, dll. Pada dasarnya, aplikasi-aplikasi tersebut mempunyai kemiripan, yaitu untuk menghasilkan data kml dari format SHP.

Software berbasis aplikasi SIG menyediakan konversi data dari beberapa format data spasial. Dengan demikian untuk proses konversi ini dibutuhkan program aplikasi utama untuk mendapatkan fasilitas konversi data ini, misalnya fasilitas konversi di ArcGIS, Arcview, DNR garmin, Map Windows, GPS Trackmaker. Namun ada satu aplikasi yang relatif mudah digunakan tanpa harus menginstal program utama karena program aplikasi ini bersifat mandiri, yaitu dengan menggunakan aplikasi Shp2kml. Konversi data dapat dilakukan pada tiga tipe data, yaitu data titik, garis, dan area.

Aplikasi ini dikembangkan oleh zoonum dan dapat di download pada url berikut http://www.zonums.com:80/files/Shp2kml.zip. Setelah download selesai, unzip shp2kml.zip menjadi file aplikasi shp2kml.exe

Selamat mencoba :)

Waktu Pelaksanaan Pelatihan SIG

August 15, 2008 · Filed Under Pelatihan · Comment 

Diinformasikan kepada para pesera pelatihan SIG:

Pelatihan SIG pada hari Sabtu 16 dan 23 Agustus 2008 akan dimulai pada pukul 08.30 wib.

Terima kasih.

GIS on Weekend: Part 1

August 5, 2008 · Filed Under BERITA · Comment 

GIS on weekend adalah serangkaian kegiatan Pelatihan Penerapan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Kesehatan yang diselenggarakan selama 4 kali. Untuk pertemuan pertama telah dilaksanakan pada hari Sabtu 2 Agustus 2008. Topik untuk pelatihan awal ini adalah “Penerapan SIG untuk Kesehatan” dimana yang menjadi pemateri adalah Anis Fuad, DEA (Overview SIG Kesehatan), Sugeng Harianto (Perangkat SIG: Epimap, EpiInfo), dan Adi Widagdo (Pengenalan GPS).

SIG merupakan suatu sistem informasi dengan data khusus untuk menunjukkan lokasi dalam peta. Seiring dengan perkembangan teknologi saat ini, SIG pun telah dikembangkan dengan berbasis komputer dan bisa dimanfaatkan  untuk berbagai bidang, termasuk pada bidang kesehatan.

SIG dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apa yang ada di suatu tempat?
  2. Di mana keberadaan sesuatu?
  3. Perubahan apa yang terjadi dari…sampai….?
  4. Bagaimana pola penyebaran sesuatu?
  5. Bagaimana jika…?

Pada bidang kesehatan masyarakat, analisis spasial dengan SIG dapat digunakan untuk:

  1. Pengendalian penyakit (pemetaan vektor, kasus penyakit;identifikasi jarak, kluster kasus/sumber penyakit)
  2. Perencanaan program kesehatan
  3. Monitoring dan evaluasi program kesehatan
  4. Alat membantu alokasi sumber daya kesehatan

SIG mengintegrasikan berbagai macam data seperti data satelit, foto udara, peta digital, informasi tabular, dan data – data lainnya sehingga akan membentuk informasi baru berupa peta tematik.


Langkah awal yang harus disiapkan dalam membuat peta tematik ada menyipakan data spasial yang bisa menunjukkan lokasi suatu daerah. Untuk mendapatkan data spasial, kita dapat menggunakan GPS (global positioning system), yaitu suatu sistem navigasi berbasis satelit yang memberitahukan posisi pasti dari suatu lokasi di bumi. Penerima GPS (GPS receiver) dapat mendeteksi sinyal dari 24 satelit yang mengorbit di atas bumi. Dengan fungsi pengukuran jarak, maka posisi suatu tempat di permukaan bumi dapat ditentukan.

Setelah mendapatkan data spasial dari GPS, maka data tersebut dapat diolah menggunakan program – program SIG seperti Epimap, Quantum GIS, ArcView, dsb. Hingga akhirnya bisa menghasilkan suatu peta lengkap dengan titik – titik lokasi yang sedang diteliti.

SIG memiliki begitu banyak manfaat dalam bidang kesehatan terutama untuk analis spasial. Analisis ini dapat membantu dalam pembuatan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.

Untuk topik pelatihan selanjutnya adalah Data Spasial Untuk Pemetaan. Bagi yang ingin mengikuti sesi – sesi pelatihan SIG berikutnya, pendaftaran peserta masih dibuka dengan menghubungi Sekretariat SIMKES di 0274- 549 432 atau bisa melalui messenger yang tersedia.

Analisis Spasial Kasus Malaria Pascatsunami Di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

July 9, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Intisari

Abdulah, Hari Kusnanto, Anis Fuad

Latar belakang: Johan Pahlawan merupakan salah satu kecamatan diwilayah di Kabupaten Aceh Barat yang terkena tsunami pada 26 Desember 2004. Pasca bencana alam tersebut diperkirakan terjadi peningkatan penyakit infeksi yang bersumber dari air sebagai akibat dari kedaruratan tempat tinggal. Gelombang tsunami menyebabkan air laut naik ke daratan sejauh ±3 km, dan akibatnya terjadi endapan-endapan air pada cekungan-cekunagan yang sudah ada sebelumnya maupun yang terjadi di waktu pasang tsunami. Tempat-tempat tersebut tersebut menjadi tempat penangkaran baru bagi nyamuk Anopheles. Dilaporkan terjadi peningkatan insiden malaria ditempat – tempat pengungsian pascabenca tsunami, perlu dilakukan suatu pemetaan kasus malaria secara geografis.

Tujuan: Untuk mengetahui insiden malaria pasca bencana alam tsunami dan mengetahui adanya hubungan antara kasus malaria di daerah terkena banjir tsunami dengan daerah yang tidak terkena tsunami.

Metode: Jenis penelitian adalah survei dengan pendekatan cross sectional,. Besar sampel adalah seluruh insiden malaria tahun 2005 dan tahun 2006 di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat. Pemetaan alamat penderita menggunakan Global Positioning System (GPS).

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara persentase luas lahan, persawahan dan lahan pertanian dengan kejadian malaria.

Kesimpulan: Pola Distribusi spasial kasus malaria di Kecamatan Johan Pahlawan terkait dengan pengunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan persawahan. Tidak terdapat perbedaan Prevalensi malaria pada daerah yang terkena banjir tsunami dengan daerah yang tidak terkena banjir tsunami, di Kecamatan Johan Pahlawan. Penggunaan lahan tambak, hutan belukar, rawa dan pemukiman, tidak terkait dengan pola distribusi spasial penderita malaria di Kecamatan Johan Pahlawan.

Kata kunci: Insiden malaria, SIG, pasca bencana tsunami, penggunaan lahan

Deteksi Endemisitas Demam Berdarah Dengue (DBD) Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo

May 28, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Sunardi, Hari Kusnanto

INTISARI


Latar belakang : Kecamatan Grogol merupakan salah satu kecamatan yang memiliki kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di Kabupaten Sukoharjo, dimana terdapat 11 desa endemis dari 14 desa yang ada. Melihat tingginya angka kasus DBD di Kecamatan Grogol, maka perlu dilakukan penelitian faktor - faktor yang berhubungan dengan deteksi endemisitas DBD guna menentukan risiko penularan terhadap DBD dan prioritas penanganannya. Deteksi faktor endemisitas DBD menggunakan data proporsi penggunaan lahan permukiman, angka bebas jentik (ABJ), dan kepadatan penduduk. Proses pengolahan data menggunakan Sistim Informasi Geografis (SIG).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan endemisitas DBD dan clustering DBD di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Metode: Jenis penelitian adalah survei cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (seluruh desa yang ada di peta Kecamatan Grogol) dan seluruh kasus DBD (352 kasus) di Kecamatan Grogol sejak tahun 2004 hingga 2006 diambil titik koordinatnya. Keseluruhan populasi dalam penelitian ini akan diteliti (total population). Analisis spasial dengan SaTScan digunakan untuk mengetahui clustering DBD yang kemudian dianalisis dengan spatially weighted regression menggunakan GeoDa untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (kepadatan penduduk, ABJ dan luas permukiman) dengan variabel terikat (endemisitas DBD).
Hasil: Berdasar uji analisis spatially weighted regression (spatial error model) dengan GeoDa, hasil menunjukkan bahwa tingkat endemisitas DBD tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk (z = 0,785, p = 0,432 (p >0,05)), ABJ (z = -1,378, p = 0,168 (p>0,05)), dan proporsi luas lahan permukiman (z = 0,702, p = 0,482 (p>0,05)). Endemisitas DBD mengikuti pola distribusi spasial tertentu (p=0,004 (p<0,05)). Hasil SaTScan menggunakan Space-Time Permutation Model (Likelihood Ratio Test) menunjukkan adanya clustering penyakit DBD yang signifikan di Kecamatan Grogol. Cluster 1 terjadi pada 1 Januari 2004 – 31 Januari 2004 yang berpusat pada koordinat (-7.623250 s, 110.820450 E) dengan radius 0,00 km, sedangkan sebagai Most Likely Cluster yaitu cluster yang terjadi pada 1 Agustus 2005 – 30 September 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.586030 s, 110.794590 E) dengan radius seluas 0,79 km. Clustering kejadian DBD terjadi dengan kecenderungan mengikuti kepadatan penduduk yang tinggi, ABJ yang rendah dan proporsi lahan perumahan yang luas.
Kesimpulan: Penyebaran DBD mengikuti pola distribusi spasial tertentu. Penyebaran DBD tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk, ABJ dan proporsi luas lahan permukiman; terdapat clustering penyakit DBD yang signifikan di Kecamatan Grogol.

Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Endemisitas, Sistem Informasi Geografis