Seminar Peran Sistem Informasi Kesehatan dalam Desa Siaga
Pada tanggal 14 Februari 2007, Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIMKES) mengadakan Seminar Peran Sistem Informasi Kesehatan dalam Desa Siaga, yang bertempat di Auditorium II FK UGM dan dikuti oleh kurang lebih 90 peserta yang berasal dari beberapa instansi seperti Dinas Kesehatan, Puskesmas,Akper, Poltekes di Yogya dan Jateng, serta mahasiswa Simkes dan IKM. Seminar ini diadakan dalam rangka mendukung visi Departemen Kesehatan yaitu ” Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat” dengan misi “Membuat rakyat sehat”, serta dengan strategi “Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat”. Dalam seminar ini dipaparkan beberapa topik mengenai peran informasi sebagai suatu unsur yang penting dalam pemberdayaan potensi-potensi yang ada di masyarakat khususnya dalam hal pelayanan kesehatan. Adapun topik-topik tersebut adalah sebagai berikut:
• Kebutuhan informasi kesehatan bagi keluarga sebagai “primary producers of health”, oleh Dra. Budi Wahyuni, MM., MA
• Pemanfaatan informasi dalam pelayanan kesehatan di komunitas: posyandu, pos, kesehatan desa dan polindes, oleh drg. Senik Windyati.
• Sistem informasi dalam pelayanan kesehatan primer dan integrasi vertikal pelayanan di masyarakat, puskesmas dan rumah sakit, oleh Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH
• Sistem informasi untuk mendukung program kesehatan masyarakat di tingkat desa, oleh dr. Kristiani, SU
• Teknologi informasi untuk mengoptimalkan program desa siaga, oleh Anis Fuad, DEA
• Radio Komunitas Wiladeg (Sukoco-Kepala Desa Wiladeg, Kec. Karangmojo, Kab. Gunungkidul)
• Pengalaman Hj. Supadmi (Kasi KIA Dinkes Kab. Bantul)
Seminar ini dibagi menjadi tiga sesi, dimana sesi 1 dengan moderator Bapak Arie Sujito, S.Sos, Msi, Sesi 2 dimoderatori oleh Bapak Haryanto, SKM, Mkes, dan sesi terkahir oleh Bapak Anis Fuad, DEA.
Berikut sedikit mengenai apa yang disampaikan oleh pembicara dalam seminar tersebut:
Sesi pertama diawali oleh pemaparan Ibu wahyuni, dimana awal prsentasinya menceritakan mengenai kasus permasalahan kesehatan yaitu kasus anak yang menderita gizi buruk dan cerita suatu keluarga beberapa anggotanya mengalami kelumpuhan. Kedua hal di atas merupakan salah satu contoh dimana dalam perkembangan teknologi yang cukup pesat saat ini masih terdapat kurangnya informasi untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan. Lebih lanjut Ibu Wahyuni mengatakan bahwa kondisi tersebut mengingatkan pada bagaimana pemerintah (Departemen Kesehatan) bertanggung jawab atas terpenuhinya informasi kesehatan bagi keluarga.
Berkenaan dengan terpenuhinya informasi kesehatan bagi keluarga, maka informasi dasar yang harus dimengerti adalah mengenai kesehatan reproduksi dan seksual, yang didukung dengan adanya PHBS untuk meningkatkan derajad kesehatan.
Sehingga pada pokoknya adalah informasi kesehatan dapat di kelola sedemikian rupa sehingga dapat didistribusikan hingga tingkat keluarga agar dapat diterima, dijalankan dan dijadikan sebagai dasar.
Ibu Senik menyampaikan mengenai bagaimana pemanfaatan sistem infomasi dalam pelayanan kesehatan. Bertumpu pada puskesmas yang merupakan pelayanan klinis dan pelayanan kesehatan masyarakat dalam bentuk manajemen kesehatan wilayah. Dimana dalam pelaksanaannya puskesmas didukung dengan adanya beberapa komunitas-komunitas pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat, seperti Posyandu, Poskesdes dan Polindes. Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ada di puskesmas dan komunitas tersebut, informasi merupakan unsur yang sangat penting sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan evaluasi. Adanya informasi yang memadai juga akan membentuk suatu sistem kewaspadaan dini terhadap permasalahan-permasalahan kesehatan. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan sistem informasi untuk penanggulangan masalah kesehatan dengan aplikasi Sistem informasi Geografis dalam monitoring dan pengelolaan program pelayanan kesehatan masyarakat, yang memanfaatkan teknologi informasi. Dengan adanya aplikasi ini akan mempermudah dalam pemantauan permasalahan kesehatan di suatu wilayah.
Pada penutup sesi pertama ini Pak Hari menyampaikan mengenai sistem informasi kesehatan primer. Bahwa desa siaga bukanlah sekedar suatu hal yang harus berbentuk gedung atau baliho, tetapi lebih kepada penggerakkan dan pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya pomotif, preventif dan kuratif terhadap permasalahan kesehatan. Dapat dikatakan bahwa desa siaga merupakan jaringan pengetahuan dan kewaskitaan. Dimana dalam kesiagaan diperlukan komunikasi informasi dan pengetahuan. Selain itu perlunya sumberdaya yang dapat mengaitkan keluarga, petugas kesehatan dan sarana kesehatan.
Contohnya adalah pelajaran dari Purworejo, bahwa desa siaga merupakan desa yang terus belajar bersama meningkatkan hidup, desa siaga merupakan upaya untuk semakin sejahtera dan desa siaga difasilitasi oleh pemerintah dan swasta agar dapat terus memberdyakan diri.
Beranjak pada sesi 2, di buka denga presentasi Ibu Kristiani mengenai sistem informasi untuk mendukung program-program kesehatan masyarakat. Pengelolaan data di puskesmas berasal dari unsur-unsur manajemen puskesmas, kegiatan program pokok dan pengembangan, kegiatan luar gedung, laporan obat, masyarakat dan lintas sektoral. Manajenen data dan penggunaan informasi di pusksemas, meliputi data input dari berbagai unsur-unsur dan instrumental input berupa form, hardware dan software. Selanjutnya akan dilakukan manajemen data berupa entri, rekapitulasi, analisis, interpretasi, penyajiaan serta penyebarluasan data. Setelah dilakukan manajemen data maka akan menjadi hasil analisis berupa informasi harian, informasi bulanan dan informasi tahunan. Outputnya beupa laporan yang akan dilporkan ke Dinas Kesehatan, yaitu laporan puskesmas, SP3 dan program. Adapun data yang ada juga akan digunakan sebagai dasar penyusunan POA/PTP, evaluasi, pedoman, dll.
Selanjutnya Bapak Anis Fuad menyampaikan mengenai peran teknologi informasi dan komunikasi dalam mendukung program desa siaga. Awal pemaparan disampaikan bahwa desa siaga adalah desa yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Sedangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan suatu perangkat keras dan lunak serta infrastruktur yang dapat mengolah data menjadi suatu informasi dan berkembang dengan cepat, akan tetapi tidak semua desa dapat mengaksesnya. Sehingga perlu adanya dukungan dalam hal inovasi TIK, agar kemampuan dan sumber daya yang ada di masyarakat dapat digunakan untuk mencegah dan mengatasi permasalahan kesehatan. Bahwa dengan inovasi TIK, maka terdapat kemapuan mendeteksi masalah kesehatan, membuat pelaporan dan memanjemen informasi kesehatan.Bentuk dari inovasi TIK tersebut antara lain pemanfaatan sms untuk kepatuhan minum obat Tb dan melaporkan ibu hamil beresiko tinggi.
Pada sesi terkahir disampaikan pengalaman Bapak Sukoco (Kepala Desa Wiladeg Karangmojo Gunungkidul) mengenai adanya radio komunitas Wiladeg yang digunakan sebagai sarana penyebaran informasi dan hiburan bagi masyarakat sekitar, guna lebih mengedepankan potensi setempat. Pengalaman berikutnya disampaikan oleh Ibu Hj. Supadmi (Kasi KIA Dinkes Kab Bantul) mengenai sistem informasi dalam desa siaga, khususnya penggunaan sistem informasi dalam hal kesehatan ibu dan anak.
Dalam seminar ini juga dilakukan demo software yang merupakan salah satu bentuk inovasi teknologi informasi dan komunikasi, yaitu sms pelaporan ibu hamil resiko tinggi. Dalam sistem pelaporan melalui sms ini terdapat nama ibu hamil dan kode wilayah tinggalnya, dengan hasil tersebut maka akan dibuat pelaporan untuk pemantauan.
