Evaluasi Penerapan Sistim Informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan Bagi Pengambilan Kebijakan di Politeknik Kesehatan Mataram
A. Haris, Hari Kusnanto
INTISARI
Latar belakang: Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Mataram merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingungan Departemen Kesehatan yang menyelenggarakan pendidikan profesional program Diploma dengan fungsi pengembangan pendidikan profesional, pelaksanaan penelitian, pengabdian masyarakat, pembinaan civitas akademika, dan pelayanan administratif. Sistem informasi pendidikan tenaga kesehatan (SIPTK) merupakan sistem informasi manajemen pendidikan di Poltekkes Mataram dimana dalam penerapannya masih terdapat banyak kendala dan hambatan. Pendistribusian data dan informasi belum terintegrasi secara baik serta kurangnya sumberdaya terlatih dalam pengelolaan SIPTK menyebabkan sistem informasi pelaporan pelaksanaan kegiatan yang digunakan untuk kepentingan internal dan eksternal masih berjalan sendiri-sendiri. Selain itu, tidak tersedianya koneksi jaringan intranet menjadikan sistem informasi pada jurusan dan prodi berjalan sendiri-sendiri sehingga dapat berdampak negatif terhadap kualitas informasi yang dihasilkan SIPTK dalam mendukung pengambilan kebijakan manajemen pendidikan di Poltekkes Mataram.
Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran SIPTK dalam menghasilkan informasi yang berkualitas dan bermanfaat untuk pengambilan kebijakan manajemen pendidikan di Poltekkes Mataram.
Metode: Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus deskriptif. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah pada penerapan SIPTK berdasarkan analisa fakta lapangan, dan memberi gambaran terhadap permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang ini.
Hasil: Komponen SIPTK cukup representatif untuk pengambilan keputusan bagi manajemen di Poltekkes Mataram namun SIPTK kurang maksimal digunakan sehingga kualitas informasi yang dihasilkan kurang lengkap dan tidak tepat waktu. Selain itu rendahnya kepedulian sumberdaya manusia akan manfaat SIPTK dan belum jelasnya prosedur yang digunakan dalam pengelolaan data dan informasi mengakibatkan sistem informasi pada jurusan dan prodi masih terpisah-pisah. Tidah terpusatnya sistem yang digunakan mengakibatkan kualitas yang dihasilkan rendah dan kurang digunakan untuk pengambilan kebijakan di Poltekkes Mataram.
Kesimpulan: Pengambilan kebijakan manajemen yang diambil Poltekkes Mataram belum memanfaatkan informasi yang dihasilkan SIPTK secara maksimal karena kualitas informasi yang dihasilkan masih rendah dan minimnya penggunaan SIPTK.
Kata kunci: Evaluasi, Penerapan SIPTK, Kualitas informasi, Kebijakan.
Faktor-Faktor Penghambat Penerapan Sistem Informasi Manajemen Profil Kesehatan (SIMPK) Berbasis Local Area Network (LAN) Di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang Tahun 2006
Maman, Eko Nugroho, Anis Fuad
Intisari
Latar belakang: Sistem Informasi Manajemen Profil Kesehatan (SIMPK) berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang adalah suatu sistem informasi berbasis jaringan komputer lokal yang dapat menghasilkan informasi kesehatan dalam bentuk profil kesehatan. Penerapan SIM Profil Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang dari tahun 2003 s/d 2006 belum memberikan dukungan berarti karena tidak berfungsi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat penerapan SIM Profil Kesehatan berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang.
Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus tentang penerapan SIM Profil Kesehatan berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang melalui pengamatan, diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam.
Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa SIM Profil Kesehatan berbasis di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang tidak berfungsi. Faktor penghambat dari faktor teknis terdiri dari aspek hardware dimana bukan pada spesifikasi teknis kemampuan komputernya, melainkan pada koneksi jaringannya. Faktor penghambat dari aspek software pada beberapa komputer instalasinya tidak sempurna. Faktor penghambat dari aspek database dimana database tidak bisa direlasikan. Faktor penghambat dari aspek non teknis adalah tidak memiliki tim dan tenaga teknisi, rendahnya motivasi dan kualitas SDM pengguna, pihak pengembang SIM Profil tidak bisa menghubungkan database SIM Profil dengan database SP3 yang telah ada sebelumnya, belum memiliki prosedur kerja, struktur organisasi, manajemen proyek yang baik serta perubahan sebagian fisik bangunan dan perubahan tabel profil kesehatan.
Kesimpulan: SIM Profil Kesehatan berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang tidak berfungsi karena faktor penghambat teknis (hardware, software, database) dan faktor penghambat non teknis.
Kata kunci: Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Local Area Network, studi kasus.
Analisis Spasial Kasus Malaria Pascatsunami Di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Intisari
Abdulah, Hari Kusnanto, Anis Fuad
Latar belakang: Johan Pahlawan merupakan salah satu kecamatan diwilayah di Kabupaten Aceh Barat yang terkena tsunami pada 26 Desember 2004. Pasca bencana alam tersebut diperkirakan terjadi peningkatan penyakit infeksi yang bersumber dari air sebagai akibat dari kedaruratan tempat tinggal. Gelombang tsunami menyebabkan air laut naik ke daratan sejauh ±3 km, dan akibatnya terjadi endapan-endapan air pada cekungan-cekunagan yang sudah ada sebelumnya maupun yang terjadi di waktu pasang tsunami. Tempat-tempat tersebut tersebut menjadi tempat penangkaran baru bagi nyamuk Anopheles. Dilaporkan terjadi peningkatan insiden malaria ditempat – tempat pengungsian pascabenca tsunami, perlu dilakukan suatu pemetaan kasus malaria secara geografis.
Tujuan: Untuk mengetahui insiden malaria pasca bencana alam tsunami dan mengetahui adanya hubungan antara kasus malaria di daerah terkena banjir tsunami dengan daerah yang tidak terkena tsunami.
Metode: Jenis penelitian adalah survei dengan pendekatan cross sectional,. Besar sampel adalah seluruh insiden malaria tahun 2005 dan tahun 2006 di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat. Pemetaan alamat penderita menggunakan Global Positioning System (GPS).
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara persentase luas lahan, persawahan dan lahan pertanian dengan kejadian malaria.
Kesimpulan: Pola Distribusi spasial kasus malaria di Kecamatan Johan Pahlawan terkait dengan pengunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan persawahan. Tidak terdapat perbedaan Prevalensi malaria pada daerah yang terkena banjir tsunami dengan daerah yang tidak terkena banjir tsunami, di Kecamatan Johan Pahlawan. Penggunaan lahan tambak, hutan belukar, rawa dan pemukiman, tidak terkait dengan pola distribusi spasial penderita malaria di Kecamatan Johan Pahlawan.
Kata kunci: Insiden malaria, SIG, pasca bencana tsunami, penggunaan lahan
Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Pemodelan Spasial Kejadian Tuberkulosis (TB) Di Kota Denpasar Tahun 2007
INTISARI
Ni Nyoman Kristina, Hari Kusnanto, Anis Fuad
Latar belakang: Di Propinsi Bali penyakit menular yang perlu diwaspadai adalah penyakit - penyakit yang tergolong new emerging dan re-emerging. Sebagai usaha untuk mencegah perkembangan penyakit tersebut, maka Pemerintah mencanangkan 10 program prioritas nasional yang salah satunya adalah program Gerakan Terpadu Nasional Tuberkolosis (GERDUNAS TB). Dari permasalahan tersebut di atas, maka peneliti ingin memotret beberapa aspek yang dapat mempengaruhi prevalensi TB, yaitu faktor kepadatan penduduk, kemiskinan, status penduduk pendatang dan jarak ke sarana pelayanan kesehatan. Pemodelan ini diharapkan dapat menghasilkan model spasial yang dapat menunjukkan tingkat kerentanan wilayah terhadap penyakit TB di Kota Denpasar.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui manfaat pemodelan spasial dalam menentukan tingkat kerentanan wilayah terhadap penyakit TB; mengetahui adanya hubungan kepadatan penduduk dengan penderita TB; serta untuk mengetahui adanya hubungan pengelompokan penderita TB di desa/kelurahan dengan proporsi penduduk miskin yang tinggi, pengelompokan penduduk pendatang di Kota Denpasar, jarak ke sarana pelayanan kesehatan masyarakat dengan kejadian TB dan manfaat informasi spasial dalam meningkatkan manajemen pengendalian TB di wilayah dengan tingkat kejadian kasus yang tinggi.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectional. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan Software Geoda dan SatScan untuk proses SIG.
Hasil Penelitian : Hubungan tingkat kepadatan penduduk dengan kejadian TB diperoleh z value = -1,529 p = 0,126 (p>0,05), hubungan kemiskinan dengan kejadian TB diperoleh diperoleh z value = 3,502 p = 0,0004 (p<0,05), hubungan status penduduk pendatang terhadap kejadian TB hasil analisis diperoleh z value = -1,113 p = 0,909 (p>0,05), hubungan jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan terhadap kejadian TB diperolah nilai χ2 = 0,21 dengan nilai probabilitas (p value) = 0,65 atau p>0,05. Analisis ketergantungan spasial hasil uji Moran’s diperoleh value = 0,670 p= 0,412 (p>0,05)
Kesimpulan: Kejadian TB berhubungan dengan kemiskinan secara signifikan, dan tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk, status pendatang, dan jarak ke fasilitas pelayanan. Pola distribusi spasial TB tidak mengikuti pola tertentu. Pengklasteran TB cenderung pada daerah miskin dan menyebar mengikuti arah jalan. Wilayah sisi barat dan selatan cenderung memiliki angka kasus yang lebih tinggi. Kasus TB juga cenderung tinggi di daerah menuju TPA. Dalam radius 200 meter, penyebaran kasus TB secara kualitatif terkesan cenderung tinggi di wilayah sisi Barat dan Utara Kota Denpasar.
Kata kunci: Sistem Informasi Geografis, model spasial tuberkolosis
Evaluasi Penerapan Sistem Informasi Transaksi Puskesmas Di Kabupaten Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan
Sudarianto, Haryanto, Anis Fuad
INTISARI
Latar belakang: Sistem informasi kesehatan merupakan salah satu dari empat strategi utama pembangunan kesehatan. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan telah mencoba menerapkan sistem informasi di puskesmas yang berbasis elektronik dengan nama Sistem Informasi Transaksi Puskesmas (SITRAPUS) di Kabupaten Bantaeng sejak tahun 2006. Akan tetapi belum pernah dilakukan evaluasi mengenai keefektifan program tersebut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan SITRAPUS di Kabupaten Bantaeng dari aspek proses pengembangan, output sistem, hambatan dan dukungan penerapannya.
Metode: Penelitian ini dilakukan secara kualitatif pada puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi sebagai metode pengumpulan data.
Hasil: Dari segi proses pengembangan SITRAPUS belum melibatkan operator secara mendalam dalam perancangan sistem, pengoperasian sitrapus belum tersosialisasi dengan baik sehingga pengguna masih merasa terbebani, belum ada struktur organisasi yang khusus menangani sistem informasi, masih kurangnya pembinaan, dan belum adanya technical support yang bertanggungjawab terhadap pemeliharaan SITRAPUS. Output SITRAPUS menghasilkan laporan tentang penyakit tetapi belum akurat, belum relevan dengan kebutuhan organisasi karena hanya tentang penyakit, tetapi dapat mempermudah pekerjaan karena lebih cepatnya pencarian data. Hasil Sitrapus dimanfaatkan di Puskesmas sebagai dasar untuk menghitung retribusi, sedangkan akses data ke kabupaten belum tepat waktu.
Kesimpulan: Penerapan SITRAPUS di Kabupaten Bantaeng belum optimal karena proses penerapannya belum berjalan sesuai dengan kaidah siklus pengembangan sistem dan outputnya hanya mengenai informasi penyakit.
Kata kunci: Evaluasi Sistem Informasi, Sistem Informasi Puskesmas

