Analisis Spasial Tuberculosis Di Kabupaten Sleman Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG)

May 28, 2008 · Filed Under RISET 

Wawan Kusugiharjo, Hari Kusnanto

INTISARI

WawanLatar belakang: Penanggulangan TB Paru di Kabupaten Sleman yang masih menjadi masalah adalah rendahnya cakupan penemuan (case finding) penderita TB Paru BTA positif yang dikarenakan kurangnya aspek dukungan dari para pengambil kebijakan. Hal ini menyebabkan para petugas kesehatan dan pengelola program kurang termotivasi dalam melaksanakan kegiatannya dan sebagai dampaknya adalah target cakupan penemuan penderita tidak dapat terpenuhi. Pada saat ini cakupan penemuan baru telah mencapai 50 % sehingga keadaan ini memungkinkan terjadinya peningkatan resiko penularan TB Paru di Kabupaten Sleman dengan prediksi bahwa seorang penderita TB Paru dengan BTA Positif dapat menularkan kepada sepuluh orang di sekitarnya per tahun. Dari permasalahan di atas, maka peneliti ingin memadukan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru, yaitu faktor kepadatan penduduk, kemiskinan dan faktor sarana pelayanan kesehatan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru. Kajian analisis spasial faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan dalam penanggulangan penyakit TB Paru di Kabupaten Sleman.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan terhadap kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Sleman.
Metode: Penelitian ini adalah survei cross sectional yang dilaksanakan di wilayah Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (keseluruhan desa yang ada di peta kabupaten Sleman) dan seluruh kasus TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman pada tahun 2005 yang berjumlah 387 kasus. Variabel bebas terdiri dari kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan. Sedangkan variabel tergantung yaitu kejadian TB Paru BTA (+).
Analisa data : Analisa yang digunakan adalah analisa spasial dengan SaTScan untuk mengetahui pengelompokkan TB Paru BTA (+), Excel Distcalc untuk mengetahui jarak antara tempat tinggal kasus dengan sarana pelayanan kesehatan, dan analisa spatially weighted regression menggunakan GeoDa untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel bebas (kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan keshatan) terhadap variabel tergantung (kejadian TB Paru BTA (+)).
Hasil: Hasil uji analisa spatially weighted regression (spatial error model) dengan GeoDa menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kepadatan penduduk dengan kejadian TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman (t = -1,992; p = 0,049 (p<0,05)). Kejadian TB Paru BTA (+) tidak berhubungan dengan kemiskinan (t = -0,667 p = 0,506 (p>0,05)) dan kejadian TB Paru BTA (+) tidak mengikuti pola distribusi spasial tertentu (p= 0,622 (p>0,05)). Berdasarkan hasil SaTScan menggunakan Space-Time Permutation Model (Likelihood Ratio Test) didapatkan delapan (8) cluster. Cluster 1 terjadi pada 1 Januari 2005 – 31 Januari 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.767990 s, 110.391840 E) dengan radius 2,18 km. Sedangkan Most Likely Cluster yaitu cluster yang terjadi pada 1 Maret 2005 – 31 Maret 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.641750 s, 110.382630 E) dengan radius seluas 2,11 km.
Kesimpulan: Kejadian TB Paru BTA (+) tidak berhubungan dengan kemiskinan, tetapi berhubungan dengan kepadatan penduduk. Terdapat clustering penyakit TB Paru BTA (+) yang signifikan di kabupaten Sleman. Clustering kejadian TB Paru BTA (+) yang terjadi cenderung mengikuti kepadatan penduduk yang tinggi, tetapi tidak halnya dengan kemiskinan berdasarkan batasan administrasi.

Kata Kunci: Kejadian TB Patu BTA (+), Kemiskinana, Kepadatan Penduduk, Sarana Pelayanan Kesehatan, Sistem Informasi Geografi

Comments

Comments are closed.