Faktor-Faktor Penghambat Penerapan Sistem Informasi Manajemen Profil Kesehatan (SIMPK) Berbasis Local Area Network (LAN) Di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang Tahun 2006
Maman, Eko Nugroho, Anis Fuad
Intisari
Latar belakang: Sistem Informasi Manajemen Profil Kesehatan (SIMPK) berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang adalah suatu sistem informasi berbasis jaringan komputer lokal yang dapat menghasilkan informasi kesehatan dalam bentuk profil kesehatan. Penerapan SIM Profil Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang dari tahun 2003 s/d 2006 belum memberikan dukungan berarti karena tidak berfungsi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat penerapan SIM Profil Kesehatan berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang.
Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus tentang penerapan SIM Profil Kesehatan berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang melalui pengamatan, diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam.
Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa SIM Profil Kesehatan berbasis di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang tidak berfungsi. Faktor penghambat dari faktor teknis terdiri dari aspek hardware dimana bukan pada spesifikasi teknis kemampuan komputernya, melainkan pada koneksi jaringannya. Faktor penghambat dari aspek software pada beberapa komputer instalasinya tidak sempurna. Faktor penghambat dari aspek database dimana database tidak bisa direlasikan. Faktor penghambat dari aspek non teknis adalah tidak memiliki tim dan tenaga teknisi, rendahnya motivasi dan kualitas SDM pengguna, pihak pengembang SIM Profil tidak bisa menghubungkan database SIM Profil dengan database SP3 yang telah ada sebelumnya, belum memiliki prosedur kerja, struktur organisasi, manajemen proyek yang baik serta perubahan sebagian fisik bangunan dan perubahan tabel profil kesehatan.
Kesimpulan: SIM Profil Kesehatan berbasis LAN di Dinas Kesehatan Kabupaten Subang tidak berfungsi karena faktor penghambat teknis (hardware, software, database) dan faktor penghambat non teknis.
Kata kunci: Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Local Area Network, studi kasus.
Analisis Spasial Kasus Malaria Pascatsunami Di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Intisari
Abdulah, Hari Kusnanto, Anis Fuad
Latar belakang: Johan Pahlawan merupakan salah satu kecamatan diwilayah di Kabupaten Aceh Barat yang terkena tsunami pada 26 Desember 2004. Pasca bencana alam tersebut diperkirakan terjadi peningkatan penyakit infeksi yang bersumber dari air sebagai akibat dari kedaruratan tempat tinggal. Gelombang tsunami menyebabkan air laut naik ke daratan sejauh ±3 km, dan akibatnya terjadi endapan-endapan air pada cekungan-cekunagan yang sudah ada sebelumnya maupun yang terjadi di waktu pasang tsunami. Tempat-tempat tersebut tersebut menjadi tempat penangkaran baru bagi nyamuk Anopheles. Dilaporkan terjadi peningkatan insiden malaria ditempat – tempat pengungsian pascabenca tsunami, perlu dilakukan suatu pemetaan kasus malaria secara geografis.
Tujuan: Untuk mengetahui insiden malaria pasca bencana alam tsunami dan mengetahui adanya hubungan antara kasus malaria di daerah terkena banjir tsunami dengan daerah yang tidak terkena tsunami.
Metode: Jenis penelitian adalah survei dengan pendekatan cross sectional,. Besar sampel adalah seluruh insiden malaria tahun 2005 dan tahun 2006 di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat. Pemetaan alamat penderita menggunakan Global Positioning System (GPS).
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara persentase luas lahan, persawahan dan lahan pertanian dengan kejadian malaria.
Kesimpulan: Pola Distribusi spasial kasus malaria di Kecamatan Johan Pahlawan terkait dengan pengunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan persawahan. Tidak terdapat perbedaan Prevalensi malaria pada daerah yang terkena banjir tsunami dengan daerah yang tidak terkena banjir tsunami, di Kecamatan Johan Pahlawan. Penggunaan lahan tambak, hutan belukar, rawa dan pemukiman, tidak terkait dengan pola distribusi spasial penderita malaria di Kecamatan Johan Pahlawan.
Kata kunci: Insiden malaria, SIG, pasca bencana tsunami, penggunaan lahan
Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Pemodelan Spasial Kejadian Tuberkulosis (TB) Di Kota Denpasar Tahun 2007
INTISARI
Ni Nyoman Kristina, Hari Kusnanto, Anis Fuad
Latar belakang: Di Propinsi Bali penyakit menular yang perlu diwaspadai adalah penyakit - penyakit yang tergolong new emerging dan re-emerging. Sebagai usaha untuk mencegah perkembangan penyakit tersebut, maka Pemerintah mencanangkan 10 program prioritas nasional yang salah satunya adalah program Gerakan Terpadu Nasional Tuberkolosis (GERDUNAS TB). Dari permasalahan tersebut di atas, maka peneliti ingin memotret beberapa aspek yang dapat mempengaruhi prevalensi TB, yaitu faktor kepadatan penduduk, kemiskinan, status penduduk pendatang dan jarak ke sarana pelayanan kesehatan. Pemodelan ini diharapkan dapat menghasilkan model spasial yang dapat menunjukkan tingkat kerentanan wilayah terhadap penyakit TB di Kota Denpasar.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui manfaat pemodelan spasial dalam menentukan tingkat kerentanan wilayah terhadap penyakit TB; mengetahui adanya hubungan kepadatan penduduk dengan penderita TB; serta untuk mengetahui adanya hubungan pengelompokan penderita TB di desa/kelurahan dengan proporsi penduduk miskin yang tinggi, pengelompokan penduduk pendatang di Kota Denpasar, jarak ke sarana pelayanan kesehatan masyarakat dengan kejadian TB dan manfaat informasi spasial dalam meningkatkan manajemen pengendalian TB di wilayah dengan tingkat kejadian kasus yang tinggi.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectional. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan Software Geoda dan SatScan untuk proses SIG.
Hasil Penelitian : Hubungan tingkat kepadatan penduduk dengan kejadian TB diperoleh z value = -1,529 p = 0,126 (p>0,05), hubungan kemiskinan dengan kejadian TB diperoleh diperoleh z value = 3,502 p = 0,0004 (p<0,05), hubungan status penduduk pendatang terhadap kejadian TB hasil analisis diperoleh z value = -1,113 p = 0,909 (p>0,05), hubungan jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan terhadap kejadian TB diperolah nilai χ2 = 0,21 dengan nilai probabilitas (p value) = 0,65 atau p>0,05. Analisis ketergantungan spasial hasil uji Moran’s diperoleh value = 0,670 p= 0,412 (p>0,05)
Kesimpulan: Kejadian TB berhubungan dengan kemiskinan secara signifikan, dan tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk, status pendatang, dan jarak ke fasilitas pelayanan. Pola distribusi spasial TB tidak mengikuti pola tertentu. Pengklasteran TB cenderung pada daerah miskin dan menyebar mengikuti arah jalan. Wilayah sisi barat dan selatan cenderung memiliki angka kasus yang lebih tinggi. Kasus TB juga cenderung tinggi di daerah menuju TPA. Dalam radius 200 meter, penyebaran kasus TB secara kualitatif terkesan cenderung tinggi di wilayah sisi Barat dan Utara Kota Denpasar.
Kata kunci: Sistem Informasi Geografis, model spasial tuberkolosis
Semangat Juang Mahasiswa SIMKES
Untuk mencapai sesuatu memang diperlukan suatu usaha yang keras dan pengorbanan. Jalan yang harus dilalui pun ada yang lurus – lurus saja tetapi ada juga yang berliku – liku. Semua itu tergantung pada bagaimana usaha cara kita dalam menjalaninya. Besar harapan kami dari pengelola SIMKES, semua mahasiswa dapat menyelesaikan tesisnya dengan baik dan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Dalam kurun waktu dua minggu, enam mahasiswa SIMKES ’07 telah disetujui proposal penelitiannya dalam seminar proposal mereka. Mereka adalah Pak Muslim, Pak Farid, Pak Haris, Pak Susilo, Pak Kartiawan, dan Ibu Desak. Topik dari mahasiswa ini sangat beragam dari analisis spasial, sistem surveilans, e-learning, pengembangan sistem informasi, hingga tentang SIKNAS Online. Para kakak kelas (SIMKES ’05 dan ’06) pun satu persatu namun pasti telah memasuki tahap seminar hasil dan ujian tesis akhir, empat diantaranya siap diwisuda pada bulan Juli ini.
Untuk Bu Desak, kita patut untuk memberikan salut kepadanya karena meski sedang menjalani masa kehamilan yang semakin menua, namun Bu Desak tetap bersemangat dalam mengerjakan tesisnya. Tak pernah terlihat raut wajah kelelahan darinya karena harus berkali – kali mengunjungi kantor SIMKES di lantai 3 untuk berkonsultasi kepada Pak Anis dan juga kepada Pak Surahyo yang berkantor di Inixindo, daerah Timoho. Langkahnya tidak akan terhenti sampai di situ, sekarang dia menyiapkan diri untuk melaksanakan penelitiannya. Semoga sebelum Bu Desak melahirkan, penelitiannya sudah selesai. Good luck everybody!!
