Pengembangan Desain Database Pemantauan Program Kesehatan Di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara

May 28, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Elisa, Eko Nugroho, Anis Fuad

INTISARI

Latar belakang: Salah satu kelemahan sistem informasi di Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara adalah tidak tersedianya sistem manajemen database yang mampu mengumpulkan berbagai informasi program kesehatan secara terpadu. Dampaknya adalah kesulitan dalam memperoleh informasi yang lengkap, akurat dan dalam waktu yang singkat. Hal ini menarik untuk meneliti bagaimana bentuk dan proses penyusunan database pemantauan program kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi mengenai pemantauan program kesehatan, sumber data, mekanisme pengumpulan, serta model desain database.
Metode: Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan action research untuk mengeksplorasi tahap demi tahap pengembangan desain database kesehatan. Pengembangan desain dilakukan bersama dengan pengguna di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Tahapan - tahapan dalam action research adalah: identifikasi masalah, analisis masalah, identifikasi informasi yang dibutuhkan, merumuskan hipotesis, membuat rencana tindakan, implementasi tindakan dan mengamatinya.
Hasil: Informasi program kesehatan yang dibutuhkan adalah sumber daya kesehatan, sarana dan cakupan program berdasarkan indikator Departemen Kesehatan. Berdasarkan jenis data di atas, peneliti membuat desain database pemantauan program kesehatan hingga tingkat konseptual (tingkat logika komunitas).
Kesimpulan: Desain database tersebut diharapkan dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam pemantauan program di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Kata Kunci: Desain Database, Peneliti, Penelitian Tindakan, Pengguna

Prototipe Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Program KIA Pada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Di Propinsi Sulawesi Tengah

May 28, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Bertin Ayu Wandira, M. Hakimi, Anis Fuad

INTISARI


Latar belakang: Sistem informasi pada program Kesehatan Ibu dan Anak di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengacu pada Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dan sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Namun hingga saat ini pelaksanaannya masih secara manual. Teknologi komputer yang digunakan masih sederhana tanpa disertai dengan aplikasi khusus maupun sistem basis data.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menyusun prototipe sistem pencatatan dan pelaporan program kesehatan ibu dan anak yang menggunakan teknologi website untuk dinas kesehatan kabupaten/kota di propinsi Sulawesi Tengah. Aplikasi dikembangkan bersama dengan para calon pengguna.
Metodologi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif – kualitatif melalui pendekatan action research untuk mengekplorasi setiap proses pengembangan prototipe sistem informasi KIA.
Hasil: Prototipe dikembangkan bersama-sama dengan 5 orang responden. Aplikasi yang baru yang dikembangkan memiliki kemampuan untuk membuat grafik secara otomatis dari database. Prototipe disusun berdasarkan kebutuhan pengguna untuk pelaporan ke tingkat propinsi dan memberikan manfaat serta kemudahan bagi pengguna dalam proses pencatatan dan pelaporan program KIA.
Kesimpulan: Proses pengembangan prototipe dilakukan bersama-sama dengan responden sehingga lebih lengkap dan mudah digunakan.

Kata Kunci: Action Research, Kolaborasi Pengguna dan Peneliti, Prototipe

Distribusi Spasial Kasus Gizi Buruk dan Gizi Kurang Pada Balita Di Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman Tahun 2007

May 28, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Yose Rizal, Hari Kusnanto, Lutfan Lazuardi

INTISARI


Latar Belakang: Angka kejadian gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Pasaman mencapai 17,6% pada tahun 2006. Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk paling tinggi ditemukan di Kecamatan Mapat Tunggul, yakni 27,4 %. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan angka 15,6% di Propinsi Sumatera Barat dan angka nasional sebesar 8,5%. Untuk mengatasi persoalan gizi tersebut perlu dipahami faktor – faktor risiko berkaitan dengan karakteristik keluarga dan distribusi spasial tempat tinggal keluarga yang menderita gizi kurang dan gizi buruk
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor–faktor risiko penderita gizi kurang dan gizi buruk dengan pemahaman tentang distribusi spasial untuk mengidentifikasi pengelompokan (Clustering) kerawanan kurang gizi, berkaitan dengan topografi wilayah dan produktivitas lahan pertanian.
Metode : Penelitian survei cross sectional dilaksanakan di Kecamatan Mapat Tunggul dengan sampel para balita dengan gizi kurang dan gizi buruk. Data variabel bebas yang dikumpulkan adalah tingkat pendidikan kepala keluarga, pekerjaan kepala keluarga, pendapatan kepala keluarga, jumlah anggota keluarga, dan jarak tempat tinggal dengan fasilitas kesehatan. Lokasi tempat tinggal subjek penelitian ditentukan dengan GPS (Global Positioning System).
Hasil : Pola penyebaran kasus gizi buruk dan gizi kurang terbanyak berada di wilayah kenagarian yang memiliki lahan pertanian terbatas, akses ke fasilitas pelayanan yang lebih dari 9 km serta jauh dari pusat wilayah kecamatan. Menurut data yang dikumpulkan, 81,4% pemanfaatan lahan pertanian kurang, 79,4% jarak tempat tinggal subjek jauh dari fasilitas kesehatan, 71,6 % pendidikan orang tua balita hanya tingkat SD, 80,4%orang tua balita adalah petani, dan 94,6 % pendapatan orang tua balita kurang Rp 1.000.000,00. Hasil tes chi square menunjukkan adanya hubungan antara pemanfaatan lahan pertanian, jarak fasilitas kesehatan pendidikan dan pekerjaan orang tua balita dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang di Kecamatan Mapat Tunggul Tahun 2007. Pendapatan orang tua balita tidak berhubungan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang.
Kesimpulan: Pola penyebaran kasus gizi buruk dan gizi kurang adalah pada wilayah dengan lahan pertanian terbatas serta akses yang kurang terhadap pelayanan kesehatan. Selain itu, lahan pertanian, jarak fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan orang tua balita berhubungan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang di Kecamatan Mapat Tunggul tahun 2007, sedangkan pendapatan orang tua balita tidak berhubungan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang.
Kata Kunci: Distribusi Spasial, Gizi Buruk, Gizi Kurang, Kabupaten Pasaman

Pengembangan Prototipe Sistem Informasi Manajemen Industri Rumah Tangga Pangan Berbasis Web Untuk Meningkatkan Pengawasan Keamanan Pangan Di Daerah Istimewa Yogyakarta

May 28, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Triyanti Setyorini, Hari Kusnanto, Anis Fuad

INTISARI

Latar belakang: Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran penting dalam mewujudkan sistem keamanan pangan nasional di Indonesia. Namun demikian, kondisi IRTP di Indonesia umumnya, seperti di wilayah kerja Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Balai Besar POM) di Yogyakarta, masih sangat memprihatinkan. Beberapa masalah yang sering dijumpai di lapangan adalah data mengenai profil IRTP belum lengkap dan tidak terdokumentasi dengan baik. Hal ini menunjukkan belum terbentuknya sistem informasi IRTP yang baik
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe sistem informasi manajemen berdasarkan database hasil pemeriksaan dan hasil pengujian pangan produk IRTP berbasis web sehingga dapat meningkatkan pengawasan keamanan pangan di wilayah kerja Balai Besar POM Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian desikriptif-kualitatif melalui pendekatan action research. Penelitian dimulai dengan studi pendahuluan, analisis kebutuhan, perancangan sistem, uji coba dan simulasi sistem. Prototipe yang telah dibuat kemudian dievaluasi mengenai kemudahan dan manfaatnya.
Hasil: Telah berhasil dibuat prototipe sistem informasi manajemen IRTP berbasis web berdasarkan database hasil pemeriksaan dan pengujian produk pangan dari sarana IRTP di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sistem informasi ini memuat produk IRTP, sarana produksi dan distribusi, hasil pengambilan serta pengujian sampel, pelaporan hasil analisis dan artikel tentang keamanan pangan. Hasil evaluasi terhadap kemudahan dan manfaat menunjukkan bahwa sistem ini memberi kemudahan dalam pencarian informasi dan memberi manfaat dalam kegiatan operasional untuk pengawasan keamanan pangan.
Kesimpulan: Prototipe sistem informasi manajemen IRTP berbasis web yang telah dibuat memberikan kemudahan dalam pencarian informasi dan bermanfaat dalam kegiatan operasional pengawasan IRTP.

Kata kunci : Keamanan pangan, Sistem Informasi, Web, Industri Rumah Tangga Pangan

Deteksi Endemisitas Demam Berdarah Dengue (DBD) Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo

May 28, 2008 · Filed Under RISET · Comment 

Sunardi, Hari Kusnanto

INTISARI


Latar belakang : Kecamatan Grogol merupakan salah satu kecamatan yang memiliki kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di Kabupaten Sukoharjo, dimana terdapat 11 desa endemis dari 14 desa yang ada. Melihat tingginya angka kasus DBD di Kecamatan Grogol, maka perlu dilakukan penelitian faktor - faktor yang berhubungan dengan deteksi endemisitas DBD guna menentukan risiko penularan terhadap DBD dan prioritas penanganannya. Deteksi faktor endemisitas DBD menggunakan data proporsi penggunaan lahan permukiman, angka bebas jentik (ABJ), dan kepadatan penduduk. Proses pengolahan data menggunakan Sistim Informasi Geografis (SIG).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan endemisitas DBD dan clustering DBD di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Metode: Jenis penelitian adalah survei cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (seluruh desa yang ada di peta Kecamatan Grogol) dan seluruh kasus DBD (352 kasus) di Kecamatan Grogol sejak tahun 2004 hingga 2006 diambil titik koordinatnya. Keseluruhan populasi dalam penelitian ini akan diteliti (total population). Analisis spasial dengan SaTScan digunakan untuk mengetahui clustering DBD yang kemudian dianalisis dengan spatially weighted regression menggunakan GeoDa untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (kepadatan penduduk, ABJ dan luas permukiman) dengan variabel terikat (endemisitas DBD).
Hasil: Berdasar uji analisis spatially weighted regression (spatial error model) dengan GeoDa, hasil menunjukkan bahwa tingkat endemisitas DBD tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk (z = 0,785, p = 0,432 (p >0,05)), ABJ (z = -1,378, p = 0,168 (p>0,05)), dan proporsi luas lahan permukiman (z = 0,702, p = 0,482 (p>0,05)). Endemisitas DBD mengikuti pola distribusi spasial tertentu (p=0,004 (p<0,05)). Hasil SaTScan menggunakan Space-Time Permutation Model (Likelihood Ratio Test) menunjukkan adanya clustering penyakit DBD yang signifikan di Kecamatan Grogol. Cluster 1 terjadi pada 1 Januari 2004 – 31 Januari 2004 yang berpusat pada koordinat (-7.623250 s, 110.820450 E) dengan radius 0,00 km, sedangkan sebagai Most Likely Cluster yaitu cluster yang terjadi pada 1 Agustus 2005 – 30 September 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.586030 s, 110.794590 E) dengan radius seluas 0,79 km. Clustering kejadian DBD terjadi dengan kecenderungan mengikuti kepadatan penduduk yang tinggi, ABJ yang rendah dan proporsi lahan perumahan yang luas.
Kesimpulan: Penyebaran DBD mengikuti pola distribusi spasial tertentu. Penyebaran DBD tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk, ABJ dan proporsi luas lahan permukiman; terdapat clustering penyakit DBD yang signifikan di Kecamatan Grogol.

Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Endemisitas, Sistem Informasi Geografis

« Previous PageNext Page »